Menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan global yang terus meningkat, pertanian modern tidak bisa lagi mengandalkan metode konvensional semata. Ilmu rekayasa hayati, yang terangkum dalam bidang Biotech dan Genetik, menjadi pilar penting dalam menciptakan tanaman pangan yang lebih tangguh, bergizi, dan berdaya hasil tinggi. Biotech dan Genetik dalam konteks edukasi pertanian berfokus pada pemanfaatan alat ilmiah seperti pemuliaan selektif, kultur jaringan, hingga rekayasa genetik (seperti teknologi CRISPR), namun selalu dalam kerangka etika dan keamanan yang ketat. Dengan mengintegrasikan Biotech dan Genetik ke dalam kurikulum, petani dan ilmuwan masa depan dipersiapkan untuk memimpin inovasi yang bertanggung jawab.
Memahami Aplikasi Etis Rekayasa Hayati
Edukasi pertanian modern harus secara seimbang mengajarkan potensi ilmiah dan batasan etis dari rekayasa hayati. Tiga aplikasi utama dari Biotech dan Genetik dalam pertanian meliputi:
- Peningkatan Nutrisi (Biofortifikasi): Contohnya adalah pengembangan padi yang diperkaya vitamin A untuk mengatasi kekurangan gizi (seperti kasus Golden Rice).
- Ketahanan terhadap Stres Lingkungan: Menciptakan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan, salinitas (kadar garam tinggi), atau suhu ekstrem, yang sangat relevan di wilayah yang rentan perubahan iklim.
- Pengurangan Penggunaan Pestisida: Melalui pengembangan tanaman yang memiliki resistensi alami terhadap hama tertentu.
Aspek etika sangat ditekankan, termasuk pentingnya transparansi, penilaian risiko lingkungan yang komprehensif, dan pengujian keamanan pangan yang ketat sebelum produk rekayasa genetik dirilis ke pasar.
Kultur Jaringan sebagai Metode Pemuliaan yang Aman
Salah satu praktik Biotech dan Genetik yang paling banyak diajarkan di perguruan tinggi pertanian adalah kultur jaringan. Teknik ini memungkinkan perbanyakan massal tanaman unggul dalam waktu singkat di lingkungan laboratorium yang steril. Kultur jaringan digunakan untuk menjaga kemurnian genetik varietas tanaman penting (seperti pisang, anggrek, atau bibit pohon hutan) dan mempercepat penyediaan benih berkualitas tinggi kepada petani.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Puslitbangtan) Bogor, dalam lokakarya tahunan mereka yang diadakan setiap bulan Juli, secara konsisten menekankan pelatihan kultur jaringan untuk pemulia tanaman muda. Hal ini memastikan bahwa teknik perbanyakan bibit, yang merupakan aplikasi awal dari Biotech dan Genetik, dilakukan dengan standar higienis dan teknis yang tinggi.
Regulasi dan Keterlibatan Publik
Aspek penting lainnya dari edukasi modern adalah pemahaman tentang regulasi nasional dan internasional terkait tanaman hasil rekayasa genetik. Di Indonesia, setiap rilis varietas baru yang melibatkan rekayasa harus melalui proses evaluasi keamanan pangan dan lingkungan yang ketat oleh komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (KHP-RG), yang pertemuannya bersifat rutin dan tercatat pada tanggal 15 Oktober 2025. Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan yang hati-hati dan berbasis bukti.
Secara keseluruhan, Biotech dan Genetik adalah alat yang tak terhindarkan untuk mengatasi krisis pangan global. Dengan mengintegrasikan ilmu rekayasa hayati secara mendalam dalam edukasi pertanian—dan secara konsisten mengajarkan kerangka etis dan regulasi yang menyertainya—generasi profesional pertanian disiapkan untuk memanfaatkan inovasi ini secara bertanggung jawab demi masa depan pangan yang lebih aman dan berkelanjutan.