Di tengah desakan global untuk mencapai netralitas karbon, sektor pertanian berada di bawah pengawasan ketat karena perannya sebagai penghasil emisi gas rumah kaca yang signifikan. Munculnya teknologi canggih telah memperkenalkan dua pendekatan kontras: pertanian digital yang didukung data, dan pertanian konvensional yang masih sangat bergantung pada praktik lama. Memahami dan membandingkan jejak lingkungan dari kedua sistem ini, khususnya jejak karbon yang dihasilkannya, menjadi penting untuk merancang masa depan pangan yang berkelanjutan.
Jejak karbon dalam pertanian konvensional sebagian besar berasal dari empat sumber utama. Pertama, penggunaan pupuk nitrogen sintetis, yang membutuhkan energi fosil dalam pembuatannya dan melepaskan dinitrogen oksida ($\text{N}_2\text{O}$), gas rumah kaca yang 300 kali lebih kuat daripada $CO_2$. Kedua, penggunaan bahan bakar fosil yang intensif untuk mengoperasikan traktor dan mesin berat dalam praktik pengolahan tanah (tillage), yang tidak hanya membakar minyak tetapi juga melepaskan karbon yang tersimpan dalam tanah. Ketiga, emisi metana ($\text{CH}_4$) dari pemeliharaan ternak ruminansia. Keempat, rantai pasok yang panjang, yang membutuhkan transportasi dan pendinginan intensif energi. Secara keseluruhan, pertanian konvensional cenderung memiliki jejak karbon per unit produksi yang tinggi karena inefisiensi dan ketergantungan pada input berbasis fosil.
Sebaliknya, pertanian digital menawarkan potensi besar untuk memangkas jejak karbon secara dramatis. Pertanian digital memanfaatkan sensor, drone, citra satelit, dan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat keputusan yang sangat presisi (precision agriculture). Dengan presisi ini, petani dapat menerapkan pupuk, air, dan pestisida hanya pada lokasi yang benar-benar membutuhkan, yang secara signifikan mengurangi volume input yang terbuang. Mengurangi penggunaan pupuk nitrogen secara optimal akan menurunkan emisi $\text{N}_2\text{O}$ dan energi yang diperlukan untuk produksi pupuk, sehingga secara langsung menekan jejak karbon komoditas. Selain itu, pertanian digital memfasilitasi adopsi praktik zero-tillage dan variable rate seeding yang lebih cepat, yang membantu menyimpan karbon di dalam tanah.
Namun, membandingkan jejak lingkungan ini juga harus jujur terhadap tantangan pertanian digital. Meskipun operasi di lapangan lebih efisien, sistem ini memiliki jejak karbon tersendiri yang berasal dari “awan” data, pusat server, pembuatan dan pengisian daya sensor, dan perangkat keras teknologi tinggi. Selain itu, aksesibilitas dan biaya awal yang tinggi seringkali menghambat adopsi oleh petani kecil. Oleh karena itu, pengurangan jejak karbon yang dihasilkan oleh pertanian digital hanya akan signifikan jika teknologi ini didukung oleh sumber energi terbarukan dan diterapkan secara massal untuk mencapai skala ekonomi.