Bio-indikator Lahan: Pelatihan Identifikasi Organisme Hidup di Pertanian

Bio-indikator lahan adalah cerminan kesehatan ekosistem pertanian, dan melalui Pelatihan Identifikasi organisme hidup di dalamnya, petani modern dapat membaca “bahasa” tanah mereka. Memahami jenis dan populasi makhluk mikroskopis hingga makroskopis yang mendiami lahan akan memberikan petunjuk langsung tentang kesuburan, kualitas, dan potensi masalah yang mungkin ada. Edukasi ini menjadi esensial untuk praktik pertanian berkelanjutan.

Program Pelatihan Identifikasi organisme hidup di pertanian ini dirancang untuk membekali petani dengan keterampilan praktis dalam memantau kesehatan lahan secara mandiri. Sebagai contoh, pada hari Minggu, 20 April 2025, pukul 08.30 hingga 16.00 WIB, di Pusat Edukasi Pertanian Organik (PEPO) “Karya Alam Lestari” yang berlokasi di Desa Subur Jaya, Kecamatan Agro Makmur, Kabupaten Bumi Lestari, sebuah lokakarya telah sukses diselenggarakan. Acara ini dihadiri oleh 75 peserta yang terdiri dari perwakilan kelompok tani organik, fasilitator desa, serta mahasiswa kehutanan yang tertarik pada ekologi tanah.

Materi yang disampaikan dalam lokakarya ini dimulai dengan pengenalan konsep bio-indikator tanah. Peserta diajarkan bagaimana kehadiran atau ketiadaan organisme tertentu dapat menjadi sinyal tentang kondisi tanah. Misalnya, melimpahnya cacing tanah seringkali menunjukkan tanah yang gembur dan kaya bahan organik, sementara ketiadaan serangga penyerbuk dapat mengindikasikan masalah lingkungan. Sesi ini juga mengenalkan berbagai kelompok organisme tanah yang penting, seperti bakteri, fungi, protozoa, nematoda, dan artropoda tanah, serta peran masing-masing dalam siklus nutrisi dan kesehatan tanah.

Selanjutnya, pelatihan berfokus pada metode praktis dalam melakukan Pelatihan Identifikasi organisme di lapangan. Peserta diajarkan teknik pengambilan sampel tanah yang benar, cara menggunakan alat sederhana seperti lup atau mikroskop saku, dan bagaimana mengamati serta mencatat temuan mereka. Misalnya, mereka belajar cara menghitung populasi cacing tanah per meter persegi, mengidentifikasi jenis-jenis jamur makroskopis yang tumbuh di lahan, atau mengenali keberadaan serangga bermanfaat versus hama. Penekanan diberikan pada pentingnya observasi rutin sebagai bagian dari manajemen lahan terpadu.

Aspek penting lainnya yang dibahas adalah interpretasi data dari hasil identifikasi. Peserta diedukasi bagaimana menghubungkan keberadaan atau kelimpahan organisme tertentu dengan praktik pertanian yang sedang diterapkan. Misalnya, peningkatan populasi mikroba pengurai setelah aplikasi kompos menunjukkan efektivitas penambahan bahan organik. Sebaliknya, penurunan jumlah cacing tanah setelah penggunaan pestisida tertentu menjadi indikator perlunya evaluasi ulang strategi pengendalian hama. Diskusi interaktif dengan narasumber, Ibu Dr.莉娜 サリ (Lina Sari), seorang ahli ekologi tanah dari Universitas Gadjah Mada, yang telah meneliti bio-indikator selama lebih dari 18 tahun, sangat memperkaya pemahaman peserta.

Sesi praktik lapangan menjadi bagian krusial dari lokakarya ini. Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk langsung melakukan observasi dan identifikasi organisme di beberapa plot percontohan PEPO “Karya Alam Lestari” yang memiliki kondisi tanah berbeda. Mereka mempraktikkan teknik pengambilan sampel, penggunaan alat bantu, dan pencatatan data secara sistematis. Pendampingan dilakukan oleh Bapak Budi Santoso, seorang penyuluh pertanian berpengalaman dari Dinas Pertanian Kabupaten Bumi Lestari, yang telah mendedikasikan lebih dari 10 tahun untuk edukasi petani. Diharapkan, dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari Pelatihan Identifikasi ini, para petani mampu menjadi “dokter” bagi lahan mereka sendiri, membaca sinyal dari organisme hidup, dan mengambil keputusan yang tepat demi pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.