Dalam upaya meningkatkan produktivitas, pertanian modern sering kali berfokus pada penanaman varietas tanaman unggul secara massal. Namun, praktik ini, yang dikenal sebagai monoculture, secara tidak langsung mengancam keberagaman hayati pertanian, terutama varietas lokal yang telah beradaptasi dengan lingkungan selama ratusan tahun. Padahal, varietas lokal ini memiliki nilai genetik yang tak ternilai, menyimpan ketahanan terhadap penyakit, hama, dan kondisi iklim ekstrem. Melindungi varietas-varietas ini dari kepunahan bukan hanya tugas konservasi, tetapi juga investasi penting untuk ketahanan pangan masa depan. Artikel ini akan membahas mengapa keberagaman hayati pertanian sangat vital dan bagaimana kita dapat melindunginya.
Salah satu alasan mengapa varietas lokal begitu penting adalah ketahanannya. Varietas padi lokal di suatu daerah, misalnya, telah berkembang dan beradaptasi dengan kondisi tanah dan curah hujan spesifik di sana. Mereka tidak membutuhkan pupuk kimia dan pestisida sebanyak varietas unggul, yang pada akhirnya mengurangi biaya produksi bagi petani dan dampak negatif terhadap lingkungan. Laporan dari Lembaga Penelitian Padi Nasional pada 18 Oktober 2025 menunjukkan bahwa varietas padi lokal di Sulawesi Selatan mampu bertahan dari serangan hama wereng yang menghancurkan varietas unggul. Ini membuktikan bahwa keberagaman hayati pertanian adalah benteng alami melawan hama dan penyakit.
Selain ketahanan, varietas lokal juga memiliki nilai gizi dan rasa yang unik. Banyak sayuran dan buah-buahan lokal yang memiliki cita rasa khas dan kandungan nutrisi yang lebih kaya dibandingkan dengan varietas yang seragam. Misalnya, berbagai jenis ubi atau jagung lokal di Indonesia memiliki warna dan rasa yang berbeda-beda, yang merupakan cerminan dari warisan genetik yang kaya. Melindungi mereka berarti menjaga warisan kuliner dan pengetahuan tradisional yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Pada 22 November 2024, dalam sebuah festival pangan lokal, petugas dari Dinas Ketahanan Pangan menyatakan bahwa promosi produk dari varietas lokal berhasil meningkatkan minat masyarakat dan memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi petani.
Lalu, bagaimana cara melindungi keberagaman hayati pertanian? Langkah pertama adalah melalui konservasi di tempat, yaitu dengan mendorong petani untuk terus menanam varietas lokal di lahan mereka. Pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat dapat memberikan insentif atau pendampingan bagi petani yang berkomitmen pada praktik ini. Selain itu, konservasi di luar tempat, seperti penyimpanan benih di bank gen, juga sangat penting. Bank-bank ini menyimpan jutaan benih dari berbagai varietas tanaman sebagai “cadangan” untuk masa depan. Dalam sebuah laporan dari Bank Gen Nasional pada 15 Juli 2025, tercatat bahwa mereka telah menyimpan lebih dari 5.000 varietas tanaman lokal dari seluruh Indonesia.
Pada akhirnya, melindungi keberagaman hayati pertanian adalah tanggung jawab kolektif. Ini adalah sebuah upaya untuk memastikan bahwa kita tidak hanya memiliki cukup makanan, tetapi juga makanan yang beragam, bergizi, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.