Pengendalian gulma (tanaman pengganggu) adalah salah satu tugas paling intensif dan memakan waktu dalam pertanian konvensional, seringkali memerlukan biaya tenaga kerja yang besar dan penggunaan herbisida yang luas. Namun, kemajuan dalam robotika pertanian kini menawarkan solusi transformatif: Robot Penyiang Gulma. Robot Penyiang Gulma menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dan visi komputer untuk secara akurat mengidentifikasi gulma dan menghilangkannya secara mekanis atau termal, menggantikan tenaga kerja manual yang semakin sulit didapatkan. Adopsi Robot Penyiang Gulma adalah kunci dalam Pertanian Presisi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dan mengoptimalkan biaya operasional.
Cara kerja Robot Penyiang Gulma sangat canggih. Robot-robot ini dilengkapi dengan sistem GPS berakurasi tinggi (RTK-GPS) untuk navigasi yang presisi di antara barisan tanaman, mirip dengan sistem auto-steering pada traktor. Selain GPS, kamera resolusi tinggi dan algoritma AI memungkinkan robot membedakan secara instan antara tanaman budidaya (misalnya, jagung atau cabai) dan gulma. Setelah identifikasi, robot akan melakukan penyiangan secara selektif. Beberapa model menggunakan lengan mekanis kecil atau alat potong yang sangat presisi untuk mencabut gulma di tingkat akar, sementara yang lain menggunakan semburan panas atau listrik kecil untuk membunuhnya, tanpa merusak tanaman utama.
Manfaat utama dari penggunaan Robot Penyiang Gulma adalah penghematan biaya tenaga kerja dan input kimia. Penyiangan manual sangat mahal dan memakan waktu, terutama pada lahan yang luas. Dengan robot yang dapat bekerja 24 jam sehari (didukung oleh baterai atau panel surya), efisiensi penyiangan meningkat drastis. Berdasarkan studi kasus dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya pada 10 Oktober 2025, penggunaan robot penyiang pada lahan bawang merah mengurangi kebutuhan herbisida hingga 80% dan memangkas biaya tenaga kerja hingga 45% dibandingkan metode manual. Pengurangan herbisida ini secara langsung mendukung praktik Regenerative Farming dan produksi pangan organik.
Selain itu, Robot Penyiang Gulma juga dapat diintegrasikan dengan data dari Drone di Lahan atau Sensor Tanah Cerdas. Data yang dikumpulkan robot mengenai jenis gulma, kepadatan, dan lokasi dapat diolah untuk menghasilkan peta gulma, yang membantu petani merencanakan strategi pengendalian jangka panjang. Dengan otomatisasi tugas yang berulang dan melelahkan ini, petani dapat fokus pada tugas manajemen yang lebih strategis, seperti Membaca Harga Pasar dan Membuat Anggaran Pertanian, sekaligus memastikan lahan mereka selalu bersih dan tanaman tumbuh subur.