Untuk mendorong kemajuan sektor pertanian, meningkatkan kapasitas petani adalah upaya krusial yang harus dilakukan secara berkelanjutan. Metode penyuluhan dan lokakarya berkala terbukti efektif dalam mentransfer pengetahuan, memperkenalkan inovasi, dan membangun keterampilan petani. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan pertanian yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan. Pada Rabu, 19 November 2025, dalam sebuah lokakarya “Petani Unggul, Hasil Gemilang” di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Bapak Ir. Sudirman, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, menyatakan, “Melalui penyuluhan dan lokakarya rutin, kita terus meningkatkan kapasitas petani agar mereka siap menghadapi tantangan zaman.” Pernyataan ini didukung oleh laporan evaluasi dari BPP setempat per Oktober 2025, yang menunjukkan peningkatan rata-rata hasil panen mangga 10% dan penurunan serangan hama 15% pada kelompok petani yang aktif mengikuti program ini.
Penyuluhan berkala berperan penting dalam meningkatkan kapasitas petani dengan menyajikan informasi terbaru tentang praktik budidaya, varietas unggul, dan teknik pengelolaan lahan. Petugas penyuluh lapangan (PPL) sering mengunjungi kelompok tani untuk memberikan ceramah singkat, mendistribusikan leaflet, atau mendiskusikan masalah yang dihadapi petani. Ini memastikan bahwa informasi penting dapat sampai langsung ke petani di akar rumput. Misalnya, pada pukul 09.00 WIB di hari lokakarya tersebut, PPL menjelaskan tentang varietas mangga Arumanis 140 yang lebih tahan hama dan memiliki masa panen yang lebih cepat, serta tata cara penanaman yang tepat untuk varietas tersebut.
Sementara itu, lokakarya memberikan kesempatan bagi petani untuk terlibat lebih aktif dalam pembelajaran praktik. Dalam lokakarya, petani tidak hanya mendengarkan, tetapi juga berdiskusi, berbagi pengalaman, dan bahkan mempraktikkan teknik tertentu secara langsung. Hal ini efektif dalam meningkatkan kapasitas petani karena mereka bisa mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dan keterampilan yang lebih konkret. Topik lokakarya bisa sangat bervariasi, mulai dari pembuatan pupuk organik, identifikasi hama dan penyakit, hingga teknik pasca panen dan pemasaran produk. Seorang ahli pertanian dari Universitas Padjadjaran, yang menjadi narasumber dalam lokakarya tersebut, pada 12 November 2025, memandu sesi praktik pembuatan pupuk cair organik dari limbah buah-buahan.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga penelitian, universitas, dan komunitas petani sangat penting untuk meningkatkan kapasitas petani secara berkelanjutan. Penyediaan anggaran yang cukup untuk program penyuluhan, pengembangan materi yang relevan, dan peningkatan kompetensi penyuluh adalah investasi krusial. Sebuah laporan dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) pada 1 Juli 2025, merekomendasikan pemerintah daerah untuk mengalokasikan minimal 2% dari anggaran pertanian untuk program penyuluhan. Dengan meningkatkan kapasitas petani melalui penyuluhan dan lokakarya berkala, sektor pertanian Indonesia akan semakin kuat dan mampu beradaptasi dengan tantangan di masa depan.